Rabu, 18 Juni 2014

Linguistik Sebagai Ilmu

TUGAS KAJIAN KEBAHASAAN

Tentang

“LINGUISTIK SEBAGAI ILMU”




 Oleh: 

AMRI RAZAK 
1200557


Dosen Pembimbing: Nur Azmi Alwi M.Pd

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UPP IV BUKITTINGGI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012/2013



LINGUISTIK SEBAGAI ILMU
            Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Atau lebih tepatnya telaah ilmiah mengenai bahasa manusia

                  1.      KEILMIAHAN LINGUISTIK

 Pada dasarnya setiap ilmu mengalami tiga tahap perkembangan antara lain sebagai berikut:
            

 Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Pada tahap ini pengambilan kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu. Tindakan spekulatif ini bisa dilihat , misalnya dalam bidang geografi dulu orang berpendapat bahwa bumi ini berbentuk datar seperti meja. Lalu karena melihat matahari setiap pagi terbit di sebelah timur dan terbenam pada sore hari di sebelah Barat maka orang berpendapat bahwa matahari itu mengelilingi bumi.
            
 Tahap kedua, adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengupulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apa pun. Kebanyakan ahli sebelum perang kemerdekaan baru bekerja sampai tahap ini. Bahasa-bahasa di Nusantara di daftarkan, ditelaah cirri-cirinya, dikelompok-kelompokkan berdasarkan persamaan cirri bahasa tersebut. Cara seperti ini belum dapat dikatakan ilmiah sebab belum sampai pada penarikan suatu teori.
            
 Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesis-hipotesis, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.
             
Disiplin linguistik dewasa ini sudah menggalami ketiga tahap di atas. Artinya disiplin ilmu linguistik sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah. Selain itu, bisa dikatakan ketidak spekulatifan dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu cirri keilmiahan. Tindakan tidak spekulatif dalam kegiatan ilmiah berarti tindakan itu, dalam menarik kesimpulan atau teori harus didasarkan data empiris, yakni data yang nyata ada, yang di dapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.
            
 Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Itulah sebabnya, bidang simantik kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna, yang menjadi objek simantik, tidak dapat diamati secara empiris; tidak seperti fonem dalam fonologi atau morfem dan kata dalam morfologi. Umpamanya, menurut pengetahuan kita jika prefiks me- diimbuhkan pada kata dassar yang mulai dengan vocal maka akan muncul sengau-ng-. Contohnya merubah menjadi kata mengubah.
              
Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. Kesimpulan ini disebut kesimpulan induktif. Kemudian kesimpulan ini diuji lagi dengan data empiris yang diperluas. Bila dengan data empiris bari ini kesimpulan itu tetap berlaku, maka kesimpulan itu semakin kuat kedudukannya.
             
Secara deduktif adalah kebalikannya. Artinya suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang lazim disebut premis mayor, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif. Kalau kita menarik kesimpulan deduktif dari premis mayor terhadap data khusus atau premis minor, seperti berikut:
Premis Mayor              : Semua mahasiswa lulusan SMA
Premis Minor              : Ezy seorang mahasiswa
(data khusus)
Kesimpulan Deduktif : Ezy adalah lulusan SMA

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguuistik sering disebut sebagai ilmu nomotetik.
Kemudian sesuai dengan predikat keilmiahan yang disandangnya, linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan; tetapi akan menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.
            
 Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa, dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut:
             
Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya, bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer, sedangkan bahasa tulis hanya sekunder.
             

Kedua, karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain. Misalnya, dulu banyak ahli bahasa yang meneliti bahasa-bahasa di Indonesia dengan menggunakan kerangka atau konsep yang berlaku dalam bahasa latin, Yunani atau Arab, sehingga kita sekarang mewarisi konsep-konsep yang tidak cocok untuk bahasa-bahasa di Indonesia.
             
Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan, atau sebagai sistem itu, disebut pendekatan struktural. Lawannya, disebut pendekatan atomistis, yaitu yang melihat bahasa sendiri sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.
            
 Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Karena itu pula, linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Studi sinkronik ini bersifat deskriptif karena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pada kurun waktu yang terbatas  itu. Secara diakronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi bahasa secara diakronik lazim juga disebut studi historis komparatif.
           
Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara diskriptif dan tidak secara preskriptif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut peneliti seharusnya diungkapkan.

       
       2.      SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin). Demikian pula dengan linguistik. Di sini kita akan mencoba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik itu berdasarkan:
      1)      Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pertanyaan-pertanyaan teoretis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu. Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, atau Bahasa Indonesia. Kajian khusus ini bisa juga dilakukan terhadap satu rumpun atau subrumpun bahasa Austronesia atau subrumpun Indo-German.

          2)      Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik.

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa terbatas. Misalnya mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut juga linguistik deskriptif. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahaasa (atau bahasa-bahasa) pada masa yang tidak terbatas; bisa sejak awal kelahiran bahasa itu sampai zaman punahnya bahasa tersebut. Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komperatif.

       3)      Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro.

Linguistik mikro mengarahkan pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau pada umumnya. Linguistik mikro mempunyai subdisiplin antara lain:
a.       Fonologi menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa, cara terjadinya, dan fungsinya dalam sistem kebahasaan secara keseluruhan.
b.      Morfologi menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya.
c.       Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain diatas kata, hubungan satu dengan lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran.
d.      Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual. Sedangkan leksikologi menyelidiki leksikon atau kosa kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya

Linguistik makro menyelidiki bahasa dalam kaitan-kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar bahasanya itu daripada struktur internal bahasa. Dalam berbagai buku biasanya terdapat subdisiplin linguistik makro antara lain:
a.       Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Dalam sosiolinguistik ini yang dibicarakan adalah pemakai dan pamakaiannya.
b.      Psikolinguistik mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh. Jadi, sikolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara psikologi dan linguistic.
c.       Antropolinguistik mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia. Bisa juga dikatakan penggunaan cara-cara linguistik dalam penyelidikan antropologi budaya.
d.      Stilistika mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra. Jadi, silistika adalah ilmu interdisipliner antara linguistik dan ilmu susastra.
e.       Finologi mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Finologi merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik, sejarah, dan kebudayaan.
f.       Filsafat bahasa mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Dalam filsafat bahasa ini terlibat ilmu linguistic dan ilmu filsafat.
g.      Dialektologi mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu. Dialektologi ini merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik dan geografi.

        4)      Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalanm kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan.
Linguistic teoritis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Jadi, kegiatannya hanya untuk kepentingan teori belaka.
       5)      Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa di kenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik sistemik.
Karena luasnya cabang atau bidang linguistik ini, maka jelas tidak akan bisa menguasai semua bidang linguistik itu. Tapi meskipun cabang atau bidang linguistik itu sangat luas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa, atau cabang-cabang yang yang termasuk linguistik mikro.

       3.      ANALISIS LINGUISTIK

            Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

       1)      Struktur, Sistem, dan Distribusi

            Menurut F. De Saussure (1857-1913) dalam bukunya course de linguistique generale (terbit pertama kali 1916, terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit 1988) membedakan dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa, yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu; sedangkan relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak susunan suatu kalimat. Misalnya, dalam kalimat: Dia mengikuti Ibunya terdapat lima belas buah fonem yang berkaitan dengan cara tertentu; ada tiga buah kata dengan hubungannya yang tertentu pula; dan ada tiga fungsi sintaksis, yaitu subjek, prediket dan objek yang mempunyai hubungan yang tertentu pula.
          
  Hubungan yang terjadi di antara satuan-satuan bahasa itu, baik antara fonem yang satu dengan yang lain, maupun antara kata yang satu dengan yang lain, disebut bersifai sigmantis. Jadi hubungan sintagmantis ini bersifat linear, atau horison antara satuan yang satu dengan satuan yang lain yang berada di kiri dan kanannya.
             
Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis, menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis, dan menurut susunan sintaksis.         Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut model strukturalis L. Bloomfield adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya. Umpamanya, konstituen dia dalam kalimat diatas Dia mengikuti Ibunya dapat diganti atau di substitusikan dengan konstituen Ali, anak itu atau mahasiswa itu.

       2)      Analisis Bawahan Langsung

            Analisis bawahan langsung, sering disebut juga analisis unsur langsung atau analisis bawahan terdekat (Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat.
            
 Teknik analisis bawahan langsung bermanfaat untuk menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat dipahami dengan analisis tersebut.

      3)      Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

            Analisis rangkaian unsur (item and arrangement) mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain. Misalnya satuan tertimbun terdiri dari ter – + timbun. Jadi, dalam analisis rangkaian unsur ini setiap satuan bahasa “terdiri dari . . .”, bukan “dibentuk dari . . .” sebagai hasil dari suatu proses pembentukan.
            Analisis proses unsur (item and process) menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun.

       4.      MANFAAT LINGUISTIK

            Lingustik akan memberikan manfaat langsung bagi mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa.
            Bagi linguis sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan tugasnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik. Bagi guru, terutama guru bahasa, penetahuan linguistik sangat penting. Dengan menguasai linguistik, maka mereka akan dapat dengan lebih mudah dalam menyampaikan mata pelajarannya.
            Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik, tetapi juga berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik. Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperliukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugas.
            Pengetahuan linguistik juga memberi manfaat bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks. Pengetahuan linguistik akan memberi tuntutan bagi penyusun buku teks dalam meyusun kalimat yang tepat, memilih kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut. Tentunya buku yang diperuntukkan untuk anak sekolah dasar harus berbeda bahasanya dengan yang diperuntukkan untuk anak sekolah lanjutan atau untuk perguruan tinggi maupun untuk masyarakat umum. 

E-Mail amri.razak@yahoo.com
Twitter @amryrazak  
FB @Eamrhy Rhazkykha Putra


Tidak ada komentar:

Posting Komentar