Minggu, 24 Agustus 2014

Kesulitan Dalam Melafalkan Dan Membedakan Huruf “F” , “V” Dan “P” Khususnya Dalam Masyarakat Sunda


MAKALAH
KESULITAN MELAFALKAN DAN MEMBEDAKAN HURUF F , V dan P KHUSUSNYA PDA MASYARAKAT SUNDA

Oleh:

AMRI RAZAK
1200557/2012
REGULER 13 BUKITTINGGI


Dosen Pembimbing :Nur Azmi Alwi S.S.M.Pd


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UPP IV BUKITTINGGI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG (UNP)
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusun karya tulis ini tanpa suatu halangan apapun dengan tema Kesulitan Dalam Melafalkan Dan Membedakan Huruf “F” , “V” Dan “P” Khususnya Dalam Masyarakat Sunda.Karya Tulis ini disusun untuk memenuhi nilai Kajian Kebahasaan SD ,disamping itu penulis berharap agar karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembacanya agar dapat mengetahui tentang

Penulis  mengucapkan terima kasih kepada Ibu Nur Azmi Alwi S.S.M.Pd selaku dosen pembimbing dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini sehingga  dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penulis menyadari karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan untuk lebih baik kedepannya. 


DAFTAR ISI

Kover.....................................................................................................         
Kata Pengantar……………………………………..…………….........                
Daftar Isi……………………………….....………..…………….........
BAB I.PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang……………………………..………………............   
2.    RumusanMasalah..............................................................................    
3.    Tujuan Penulisan...............................................................................    
BAB II. PEMBAHASAN
1.      Kesulitan Dalam Melafalkan Dan Membedakan Huruf “F”,“V”
Dan “P” Khususnya Dalam Masyarakat Sunda........................................
BAB III.PENUTUP
1.      Kesimpulan.......................................................................................                   
2.      Saran................................................................................................
                                                                                                                                 
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................                

BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang

Dalam kehidupan ini tidak semua orang dapat melafalakan dan membedakan huruf huruf secara benar dan tepat, baik itu melalui pengucapan ataupunm dalam penulisannya. Kasus yang sering ditemukan yaitu kesulitan dalam pelafalan dan membedakan antara huruf /f/, /p/, dan /v/. dalam tulisan-tulisan tertentu seringkali ditemukan kekeliruan ini. Jadi karena hal tersebutlah makanya penulis ingin mengemukakan apa yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi

Kekeliruan dan kesulitan dalam pelafalan dan membedakan huruf-huruf ini paling banyak ditemukan terutama pada masyarakat Sunda yang berada di pulau Jawa. Dari salah satu sumber dikatakan hal itu terjadi karena latar belakang sejarah pengenalan huruf di dalam masyarakat tersebut.

Rumusan Masalah 
1. Apa yang mennyebabkan seseorang susah melafalkan dan membedakan huruf /f/, /p/ dan /v/ terutama pada masyarakat Sunda?
2. Bagaimana pengenalan huruf /f/, /p/, dan /v/ dalam arkeologi bahasa?
3. Bagaimana modernisasi huruf khususnya pada huruf sunda kuno?

Tujuan Penulisan 
1. Untuk mengetahui penyebab kesulitan dalam membedakan dalam pelafalan huruf./f/,/p/, dan /v/.
2. Agar dapat memberikan pengetahuan bagaimana sebenarnya pelafalan dan perbedaan antara huruf /f/,/p/, dan /v/


BAB II
PEMBAHASAN

Kesulitan Dalam Melafalkan Dan Membedakan Huruf “F” , “V” Dan “P” Khususnya Pada Masyarakat Sunda

 Huruf keenam dalam jajaran alfabet yaitu huruf ”F”, bagi orang-orang tertentu menjadi rancu dengan huruf “P” dan “V” ketika digunakan dalam ragam bahasa lisan maupun tulisan. Sejauh pengamatan kosakata bahasa Indonesia yang melibatkan bunyi /f/, baik di awal maupun di tengah kosakata tertentu, banyak yang berasal dari bahasa Arab dan bahasa Inggris, misalnya:
o   Fakta,
o   Faedah,
o   Fakultas,
o   Fiktif,
o   Fakir,
o   Fitrah,
o   Fitri, dan
o   Fulus

Kosakata bahasa Indonesia yang melibatkan bunyi /v/ banyak yang berasal dari bahasa Inggris dan Belanda,  misalnya:
o   Vokal, dan
o   Universitas.

Sementara itu, kosakata bahasa Indonesia yang melibatkan bunyi /p/ banyak yang berasal dari bahasa daerah, misalnya dari bahasa Jawa yaitu:
o   Cungkup, dan
o   Punden

Kesulitan melafalkan huruf tidak hanya di temukan pada anak-anak dan masyarakat awam saja, tapi juga pada masyarakat yang yang tergolong berpendidikan cukup tinggi. Pernah ditemukan dalam beberapa diktat kuliah Perguruan Tinggi Negeri yang mana disusun oleh dosen-dosen asli Sunda, yang banyak memuat kekeliruan penulisan antara “F” dan “P”. Orang-orang Sunda suka membela diri dengan mengatakan, ” Siapa bilang orang sunda tidak bisa bilang “F”, itu teh Pitnah!, Pitnah!”

Memang huruf “F” bukan huruf dan lafal asli daerah Sunda. Huruf “F” berasal dari kosa kata  bahasa  Arab dan Eropa. Yang menarik adalah suku Jawa sebagai tetangga terdekat suku sunda tidak memiliki kesulitan yang berarti dalam melafalkan huruf “F”, kecuali untuk beberapa masyarakat generasi sepuh di pedalaman Jawa.  Padahal Jawa dan Sunda memiliki sejarah yang hampir sama dalam hal interaksi dengan bangsa asing yang telah membawa huruf “F” dalam budaya lisan dan literatur mereka.

Meruntut sejarahnya, huruf “F” pertama kali dibawa dan diperkenalkan oleh pedagang bangsa Arab, Persia dan Gujarat yang sekaligus juga menyebarkan agama Islam di Jawa pada abad ke-13. Bangsa Arab memiliki lafal “F” dari huruf asli “Fa’ yang banyak digunakan dalam kosa kata mereka yang tersebar baik dalam bidang perdagangan maupun dalam bidang keagamaan. Kesulitan pelafalan huruf “F” ini masih dapat ditemukan dalam masyarakat, khususnya generasi sepuh, yang kesulitan melafalkan “F”, misalnya ketika mengucapkan kata “film” (bahasa inggris) menjadi “pilem”. Tapi secara general,  hampir seluruh suku Jawa tidak kesulitan dalam melafalkan huruf “F”.

Kekeliruan dalam pelafalan dan penulisan huruf “F” menjadi huruf “P”, huruf “P” menjadi huruf “V” ini memang tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memang tidak seperti bahasa Arab yang membedakan kata qolbun ‘hati’ dan kalbun ‘anjing’. Tidak juga seperti bahasa Inggris yang membedakan back ‘belakang’ dengan bag ‘tas’. Akan tetapi, bukankah menjadi aneh ketika ada orang yang menulis pasti menjadi fasti,  saraf menjadi sarap, atau apes menjadi aves.

Berkaitan dengan kesulitan pelafalan bunyi /f/ dan /v/ ini, budayawan Jakob Sumarjo dalam buku ‘Simbo-simbol Artefak Budaya Sunda (2009) menyatakan bahwa alam pikiran dan tingkah laku masyarakat yang tercermin dari peninggalan budayanya dapat mengendap menjadi pengetahuan nilai-nilai seseorang, bukan hanya terdiri dari perolehan nilai sekarang, tetapi juga dari masa-masa lampau masyarakatnya. Nilai-nilai  tersebut kadang tidak disadari oleh para pelakunya. Hal ini tentunya juga dapat dilihat dari perilaku berbahasa seseorang. Oleh karena itu, perilaku berbahasa masyarakat Sunda, Lampung, dan Jawa yang tidak memiliki aksara “fa” dan “va” juga dapat dilihat dari perilaku berbahasa masyarakatnya sekarang ini yang cenderung sulit melafalkan bunyi /f/ dan /v/.

Uniknya, perilaku masyarakat bahasa yang tidak memiliki aksara fa dan va ini berbeda dalam hal pemberian nama. Masyarakat Sunda, misalnya, cenderung menghindari penggunaan bunyi atau huruf /f/ dan /v/ dalam pemberian nama anak, misalnya epi, saipul, pitri,epa, ipan. Hal ini berbeda dengan masyarakat Lampung, misalnya, yang gemar menggunakan huruf /f/ dan /v/ dalam pemberian nama anak. Akan tetapi, dalam praktik pelafalannya tetap saja bunyi /f/ dan /v/ ini dilafalkan sebagai /p/.

Kesulitan dalam melafalkan huruf ‘f’ dan ‘v’ sering ditemukan dalam masyarakat Sunda. Misalnya ketika menyebutkan nama Veni atau Feri maka lawan bicaranya akan bertanya P-nya Fanta atau P-nya VW. Hal ini menunjukan kebingungan bagi orang yang diajak bicara karena ketidakjelasan seorang Sunda dalam melafalkan bunyi P, F, atau V. Hal tersebut tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi orang Sunda. Bahkan sindir Jamaludin Wiartakusumah dalam Kompas (18/09) orang Sunda tidak akan bisa menjadi Presiden Finlandia karena tidak bisa melafalkan bunyi f dan v.

Arkeologi Bahasa 

Aksara dan bahasa Sunda Kuno sudah hidup ratusan tahun lamanya. Jika merujuk pada berdirinya kerajaan pertama, umurnya sudah ribuan tahun. Tulisan dengan huruf Sunda muncul tahun 500-an seperti digunakan dalam tulisan prasasti yang ditemukan di Bogor. Aksara Sunda Kuno ini dikenal dengan Istilah Kaganga. Dalam Huruf Kaganga tidak dikenal huruf Va atau Fa, yang ada hanya Pa. Ratusan tahun lamanya tradisi pelafalan konsonan P (pe) tanpa mengenal huruf V (vi) atau F (ef) mengendap dalam alam pikiran Manusia Sunda sehingga wajar jika orang Sunda tidak terbiasa melafalkan konsonan tersebut dalam bunyi bahasa.

Beratus-ratus tahun tradisi ini digunakan secara turun-temurun. Persentuhan dengan pendidikan modern (kolonialism) tidak membuat alam pikiran manusia Sunda berubah termasuk dalam melafalkan bunyi huruf. Namun orang yang tertempa pendidikan modern sedikit demi sedikit tergeser dan terbiasakan dengan pelafalan huruf f, p dan v. Persentuhan dengan dunia modern tersebut menggeser alam pikiran sebagian manusia Sunda sehingga tidak sadar bahwa pada awalnya huruf F dan V tersebut sama sekali tidak dikenal dalam alam pikiran manusia Sunda.

Walaupun dalam kehidupan Sunda modern sebagian alam fikirannya sudah tergeser oleh alam pikiran modern namun bagi sebagian yang lain alam pikiran sunda ini terus mengendap. Aksara latin modern sudah dikenalkan, namun dalam pengucapan tetap saja masih alam pikiran manusia Sunda. Maka muncullah istilah kampungan terhadap manusia Sunda yang tidak mampu atau sulit melafalkan V atau F walaupun hidup dalam lingkungan akademis sekalipun.

Inilah apa yang disebut sebagai pikiran arkeologis oleh Pengamat dan ahli budaya Sunda, Jakob Sumarjo. Menurut pandangannya dalam buku ‘Simbol - simbol Artefak Budaya Sunda (2009), alam pikiran manusia Sunda yang tercermin dari peninggalan budayanya—dalam hal ini aksara Sunda—dapat dirujuk dari tingkah laku manusianya. Menurutnya alam pikiran yang mengendap menjadi pengetahuan nilai-nilai seseorang, bukan hanya terdiri dari perolehan nilai sekarang, tetapi juga dari masa-masa lampau masyarakatnya. Nilai-nilai arkeologi tersebut menurut Jakob Sumarjo kadang tidak disadari oleh para pelakunya. Inilah yang dijadikan dasar penulis untuk menafsirkan perihal kesulitan manusia Sunda dalam melafalkan konsonan F dan V dalam bahasa kesehariannya.

Bunyi huruf yang diartikulasikan dalam bahasa Sunda juga merupakan arkeologi pikiran. Arkeologi pikiran tersebut lanjut Jakob Sumardjo mengendap dan terpendam dalam pengalaman bawahnya. Pikiran-pikiran tua dalam melafalkan bunyi bahasa akan muncul manakala pikiran tidak dikuasai sepenuhnya. Ketidakmampuan dalam melafalkan bunyi beberapa konsonan yang tidak terdapat dalam alam pikiran manusia Sunda tersebut akan dibawa kemanapun ketika seorang manusia Sunda pergi. Hal ini tidak dapat dihilangkan begitu saja karena ini adalah apa yang disebut Jakob Sumardjo sebagai pikiran otentik manusia Sunda. Oleh karena itulah, walaupun telah tertempa pendidikan modern yang mengenalkan pikiran baru dalam dunianya seorang manusia Sunda yang memiliki arkeologi pikiran local, jika kesadaran tidak dikuasainya maka bunyi konsonan v/f akan tetap berbunyi p.

Modernisasi Huruf Sunda Kuno 


Modernisasi mengharuskan kita beradaptasi dengan lingkungan baru, begitupun dalam persoalan aksara. Sejak kemunculan wacana lokalitas, huruf Sunda kuno diperkenalkan lagi bahkan di setiap nama jalan di Jawa Barat selalu diiringi dengan terjemahan dalam aksara Sunda kuno. Adaptasi dilakukan karena berkaitan dengan penyesuaian huruf-huruf yang ada dalam aksara Sunda kuno dengan huruf-huruf yang terdapat dalam aksara latin sebagai aksara pergaulan. Adaptasi huruf tersebut diantaranya adalah penambahan huruf V (Vi) dan F (Ef). Dalam aksara Sunda huruf tersebut dibaca menjadi Va [va] dan Fa [fa]. Huruf lainnya adalah X (eX), Z (Zet), dan Q (Qiu). Dalam aksara Sunda kuno aksara tersebut dibaca menjadi Xa [xa], Za [za] dan Qa [qa]. Penyesuaian huruf-huruf tersebut tentu saja sebagai upaya pemudahan transliterasi antar kedua aksara tersebut. Adaptasi tersebut dilakukan oleh Team penyusun Aksara Sunda, Undang A. Darsa seorang ahli Aksara Sunda dan peneliti filologi beserta teamnya.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat kita ketahui bahwa penyebab kesulitan dalam pelafalan dan membedakan uruf /f/, /p/ dan /v/ itu terjadi karena pengenalan huruf-huruf tersebut berasal dari negara yang berbeda-beda. Dalam kosakata bahasa Indonesia yang banyak ditemukan penggunaan huruf /f/ banyak berasal dari bahasa arab dan inggris seperti fitri, fulus, fakta, filosofis dsb. Kosakata bahasa Indonesia yang melibatkan bunyi /v/ banyak yang berasal dari bahasa Inggris dan Belanda,  misalnya vokal, dan universitas. Dan kosakata bahasa Indonesia yang melibatkan bunyi /p/ banyak yang berasal dari bahasa daerah, misalnya dari bahasa Jawa yaitu cungkup dan punden.




DAFTAR PUSTAKA

Sutan Takdir Alisyahbana menggunakan istilah ‘dasarucapan’ untuk mengacu pada segi place of articulation dalam Fonetik. Lihat Alisyahbana, Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia Jilid I, 1958, hal. 15.
http://pusatbahasa.depdiknas.go.id

Rabu, 18 Juni 2014

Linguistik Sebagai Ilmu

TUGAS KAJIAN KEBAHASAAN

Tentang

“LINGUISTIK SEBAGAI ILMU”




 Oleh: 

AMRI RAZAK 
1200557


Dosen Pembimbing: Nur Azmi Alwi M.Pd

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UPP IV BUKITTINGGI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012/2013



LINGUISTIK SEBAGAI ILMU
            Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Atau lebih tepatnya telaah ilmiah mengenai bahasa manusia

                  1.      KEILMIAHAN LINGUISTIK

 Pada dasarnya setiap ilmu mengalami tiga tahap perkembangan antara lain sebagai berikut:
            

 Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Pada tahap ini pengambilan kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu. Tindakan spekulatif ini bisa dilihat , misalnya dalam bidang geografi dulu orang berpendapat bahwa bumi ini berbentuk datar seperti meja. Lalu karena melihat matahari setiap pagi terbit di sebelah timur dan terbenam pada sore hari di sebelah Barat maka orang berpendapat bahwa matahari itu mengelilingi bumi.
            
 Tahap kedua, adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengupulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apa pun. Kebanyakan ahli sebelum perang kemerdekaan baru bekerja sampai tahap ini. Bahasa-bahasa di Nusantara di daftarkan, ditelaah cirri-cirinya, dikelompok-kelompokkan berdasarkan persamaan cirri bahasa tersebut. Cara seperti ini belum dapat dikatakan ilmiah sebab belum sampai pada penarikan suatu teori.
            
 Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesis-hipotesis, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.
             
Disiplin linguistik dewasa ini sudah menggalami ketiga tahap di atas. Artinya disiplin ilmu linguistik sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah. Selain itu, bisa dikatakan ketidak spekulatifan dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu cirri keilmiahan. Tindakan tidak spekulatif dalam kegiatan ilmiah berarti tindakan itu, dalam menarik kesimpulan atau teori harus didasarkan data empiris, yakni data yang nyata ada, yang di dapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.
            
 Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Itulah sebabnya, bidang simantik kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna, yang menjadi objek simantik, tidak dapat diamati secara empiris; tidak seperti fonem dalam fonologi atau morfem dan kata dalam morfologi. Umpamanya, menurut pengetahuan kita jika prefiks me- diimbuhkan pada kata dassar yang mulai dengan vocal maka akan muncul sengau-ng-. Contohnya merubah menjadi kata mengubah.
              
Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. Kesimpulan ini disebut kesimpulan induktif. Kemudian kesimpulan ini diuji lagi dengan data empiris yang diperluas. Bila dengan data empiris bari ini kesimpulan itu tetap berlaku, maka kesimpulan itu semakin kuat kedudukannya.
             
Secara deduktif adalah kebalikannya. Artinya suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang lazim disebut premis mayor, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif. Kalau kita menarik kesimpulan deduktif dari premis mayor terhadap data khusus atau premis minor, seperti berikut:
Premis Mayor              : Semua mahasiswa lulusan SMA
Premis Minor              : Ezy seorang mahasiswa
(data khusus)
Kesimpulan Deduktif : Ezy adalah lulusan SMA

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguuistik sering disebut sebagai ilmu nomotetik.
Kemudian sesuai dengan predikat keilmiahan yang disandangnya, linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan; tetapi akan menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.
            
 Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa, dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut:
             
Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya, bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer, sedangkan bahasa tulis hanya sekunder.
             

Kedua, karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain. Misalnya, dulu banyak ahli bahasa yang meneliti bahasa-bahasa di Indonesia dengan menggunakan kerangka atau konsep yang berlaku dalam bahasa latin, Yunani atau Arab, sehingga kita sekarang mewarisi konsep-konsep yang tidak cocok untuk bahasa-bahasa di Indonesia.
             
Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan, atau sebagai sistem itu, disebut pendekatan struktural. Lawannya, disebut pendekatan atomistis, yaitu yang melihat bahasa sendiri sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.
            
 Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Karena itu pula, linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Studi sinkronik ini bersifat deskriptif karena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pada kurun waktu yang terbatas  itu. Secara diakronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi bahasa secara diakronik lazim juga disebut studi historis komparatif.
           
Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara diskriptif dan tidak secara preskriptif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut peneliti seharusnya diungkapkan.

       
       2.      SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin). Demikian pula dengan linguistik. Di sini kita akan mencoba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik itu berdasarkan:
      1)      Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pertanyaan-pertanyaan teoretis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu. Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, atau Bahasa Indonesia. Kajian khusus ini bisa juga dilakukan terhadap satu rumpun atau subrumpun bahasa Austronesia atau subrumpun Indo-German.

          2)      Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik.

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa terbatas. Misalnya mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut juga linguistik deskriptif. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahaasa (atau bahasa-bahasa) pada masa yang tidak terbatas; bisa sejak awal kelahiran bahasa itu sampai zaman punahnya bahasa tersebut. Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komperatif.

       3)      Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro.

Linguistik mikro mengarahkan pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau pada umumnya. Linguistik mikro mempunyai subdisiplin antara lain:
a.       Fonologi menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa, cara terjadinya, dan fungsinya dalam sistem kebahasaan secara keseluruhan.
b.      Morfologi menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya.
c.       Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain diatas kata, hubungan satu dengan lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran.
d.      Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual. Sedangkan leksikologi menyelidiki leksikon atau kosa kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya

Linguistik makro menyelidiki bahasa dalam kaitan-kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar bahasanya itu daripada struktur internal bahasa. Dalam berbagai buku biasanya terdapat subdisiplin linguistik makro antara lain:
a.       Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Dalam sosiolinguistik ini yang dibicarakan adalah pemakai dan pamakaiannya.
b.      Psikolinguistik mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh. Jadi, sikolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara psikologi dan linguistic.
c.       Antropolinguistik mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia. Bisa juga dikatakan penggunaan cara-cara linguistik dalam penyelidikan antropologi budaya.
d.      Stilistika mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra. Jadi, silistika adalah ilmu interdisipliner antara linguistik dan ilmu susastra.
e.       Finologi mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Finologi merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik, sejarah, dan kebudayaan.
f.       Filsafat bahasa mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Dalam filsafat bahasa ini terlibat ilmu linguistic dan ilmu filsafat.
g.      Dialektologi mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu. Dialektologi ini merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik dan geografi.

        4)      Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalanm kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan.
Linguistic teoritis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Jadi, kegiatannya hanya untuk kepentingan teori belaka.
       5)      Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa di kenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik sistemik.
Karena luasnya cabang atau bidang linguistik ini, maka jelas tidak akan bisa menguasai semua bidang linguistik itu. Tapi meskipun cabang atau bidang linguistik itu sangat luas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa, atau cabang-cabang yang yang termasuk linguistik mikro.

       3.      ANALISIS LINGUISTIK

            Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

       1)      Struktur, Sistem, dan Distribusi

            Menurut F. De Saussure (1857-1913) dalam bukunya course de linguistique generale (terbit pertama kali 1916, terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit 1988) membedakan dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa, yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu; sedangkan relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak susunan suatu kalimat. Misalnya, dalam kalimat: Dia mengikuti Ibunya terdapat lima belas buah fonem yang berkaitan dengan cara tertentu; ada tiga buah kata dengan hubungannya yang tertentu pula; dan ada tiga fungsi sintaksis, yaitu subjek, prediket dan objek yang mempunyai hubungan yang tertentu pula.
          
  Hubungan yang terjadi di antara satuan-satuan bahasa itu, baik antara fonem yang satu dengan yang lain, maupun antara kata yang satu dengan yang lain, disebut bersifai sigmantis. Jadi hubungan sintagmantis ini bersifat linear, atau horison antara satuan yang satu dengan satuan yang lain yang berada di kiri dan kanannya.
             
Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis, menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis, dan menurut susunan sintaksis.         Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut model strukturalis L. Bloomfield adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya. Umpamanya, konstituen dia dalam kalimat diatas Dia mengikuti Ibunya dapat diganti atau di substitusikan dengan konstituen Ali, anak itu atau mahasiswa itu.

       2)      Analisis Bawahan Langsung

            Analisis bawahan langsung, sering disebut juga analisis unsur langsung atau analisis bawahan terdekat (Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat.
            
 Teknik analisis bawahan langsung bermanfaat untuk menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat dipahami dengan analisis tersebut.

      3)      Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

            Analisis rangkaian unsur (item and arrangement) mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain. Misalnya satuan tertimbun terdiri dari ter – + timbun. Jadi, dalam analisis rangkaian unsur ini setiap satuan bahasa “terdiri dari . . .”, bukan “dibentuk dari . . .” sebagai hasil dari suatu proses pembentukan.
            Analisis proses unsur (item and process) menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun.

       4.      MANFAAT LINGUISTIK

            Lingustik akan memberikan manfaat langsung bagi mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa.
            Bagi linguis sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan tugasnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik. Bagi guru, terutama guru bahasa, penetahuan linguistik sangat penting. Dengan menguasai linguistik, maka mereka akan dapat dengan lebih mudah dalam menyampaikan mata pelajarannya.
            Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik, tetapi juga berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik. Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperliukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugas.
            Pengetahuan linguistik juga memberi manfaat bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks. Pengetahuan linguistik akan memberi tuntutan bagi penyusun buku teks dalam meyusun kalimat yang tepat, memilih kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut. Tentunya buku yang diperuntukkan untuk anak sekolah dasar harus berbeda bahasanya dengan yang diperuntukkan untuk anak sekolah lanjutan atau untuk perguruan tinggi maupun untuk masyarakat umum. 

E-Mail amri.razak@yahoo.com
Twitter @amryrazak  
FB @Eamrhy Rhazkykha Putra


Senin, 09 Juni 2014

Tour De Singkara 2014 Etape 4 Di Kota Bukittinggi



    Suasana Tour De Singkarak 2014 Di Kota Bukittinggi sungguh meriah, semua siswa dan para guru beramai-ramai turun kejalan untuk menyaksikan Ivent yang sekali setahun di adakan ini. Semua warga Bukittinggi memanfaatkan Ivent ini semaksimal mungkin...!!!!

Sabtu, 07 Juni 2014

Metode Ilmiah Sebahagi Dasar IPA

ILMU KEALAMAN DASAR
Tentang
“METODE ILMIAH SEBAGAI DASAR IPA”




Oleh :

                                        NAMA         : AMRI RAZAK
                                        NIM/BP       : 1200557/2012
                                        SESI             : R.13



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UPP IV BUKITTINGGI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012




DAFTAR ISI
Halaman Judul...............................................................................................................       1
Kata Pengantar ……………………………………..……………..........…….............       2
Daftar Isi ……………...……………….....………..……………..........................…..       3           
BAB I PENDAHULUAN                                                                                                  
1.      Latar Belakang  ……………………………..……………….....................      4
2.      Rumusan Masalah........................................................................................       4
3.      Tujuan .........................................................................................................       4
BAB II PEMBAHASAN                                                                                                   
     A.    Ilmu Dan Pengetahuan………………………………......................................       5
     B.     Pengertian Metode Ilmiah.................................................................................       6
     C.     Ciri-Ciri Metode Ilmiah.....................................................................................       7
     D.    Kriteria Sebuah Metode Ilmiah Yang Baik.......................................................       7   
     E.     Langkah-Langkah Operasional Metode Ilmiah.................................................       8
     F.      Keunggulan Dan Keterbatasan Metode Ilmiah..................................................      10 
     G.    Sikap Ilmiah..................................................................................................            10

BAB III PENUTUP                                                                                                                                     
      1.      Kesimpulan …………………………………………………………………..        12
      2.      Saran .................................................................................................................       12

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………...……………………....      13



BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk hidup diberi akal budi oleh Tuhan, dengan akal budi manusia timbul rasa ingin tahu yang selalu berkembang dan tak pernah ada puasnya. Rasa ingin tahu yang terus berkembang dan tanpa batas menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia. Pengetahuan yang diperoleh akhirnya tidak terbatas pada obyek-obyek yang dapat diamati dengan panca indera saja, tetapi juga masalah lain yang berhubungan dengan baik atau buruk, indah atau tidaknya, dan sebagainya. Manusia melalui panca indera yang manusia miliki dapat menerima rangsangan dan memberikan tanggapan terhadap semua rangsangan, termasuk gejala di alam semesta ini. Tanggapan gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa alam merupakan suatu pengalaman. Perkembangan pengetahuan lebih diperlancar lagi dengan adanya tukar menukar informasi mengenai pengetahuan dan pengalaman manusia yang satu dengan yang lain sehingga akumulasi pengetahuan berlangsung cepat.
Manusia juga memiliki kecenderungan untuk menanggapi rangsangan yang ada di sekitarnya, termasuk gajala-gejala di alam semesta ini. Tanggapan terhadap gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang ada ini di alam semesta ini akan menjadi sebuah pegalaman yang akan terus berkembang karena rasa keingin tahuan manusia. Pengalaman-pengalaman inilah yang nantinya menjadi pengetahuan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

2.    Rumusan Masalah
                a.       Apa itu ilmu dan pengetahuan?
                b.      Apa pengertian dari metode ilmiah?
                c.       Bagaimana ciri-ciri dan kriteria dari metode ilmiah?
                d.      Bagaimana langkah-langkah dalam metode ilmiah?
                e.       Apa saja sikap ilmiah itu?
3.    Tujuan
a.    Agar dapat membedakan antara ilmu dan pengetahuan.
b.    Memahami secara mendalam mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan metode ilmiah.
c.    Mengetahui sikap-sikap ilmiah agar dapat di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN

       A.    Ilmu Dan Pengetahuan
Ilmu tentang alam merupakan kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis. Artinya, hasil percobaan yang dilakukan manusia akan menghasilkan suatu konsep yang mendorong dilakukannya percobaan-percobaan berikutnya, karena ilmu alam bertujuan untuk mencari kebenaran yang relatif dari suatu hal.
Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, karena ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat tertentu. Adapun syarat-syarat suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu adalah sebagai berikut:
            a.       Logis atau masuk akal
Sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang tidak diakui kebenarannya.
            b.      Objektif
Pengetahuan yang didapat harus sesuai dengan objeknya dan didukung oleh fakta empiris.
            c.       Metodik
Berarti bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara-cara tertentu yang teratur, dirancang,diamati,dan dikontrol.
            d.      Sistematis
Berarti bahwa pengetahuan tersebut disusun dalam satu system yang satu dengan lainnya saling berkaitan dan saling menjelaskan. Sehingga merupakan satu-kesatuan yang utuh.
             e.       Berlaku umum atau universal
Pengetahuan berlaku untuk siapa saja dan dimana saja yaitu dengan cara eksperimentasi yang sama akan di peroleh hasil yang sama atau konsisten.
f.       Komulatif berkembang dan tentative
Khasanah ilmu pengetahuan selalu bertambah dengan hadirnya ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan yang terbukti salah harus diganti dengan ilmu pengetahuan yang benar (tentatif).

      Berbagai cara dilakukan manusia untuk memperoleh pengetahuan, baik melalui pendekatan nonilmiah maupun pendekatan ilmiah. Adapun penemuan ilmu pengetahuan mereka melalui pendekatan nonilmiah diperoleh dengan 3 cara:
1.      Prasangka
2.      Intuisi
3.      Trial and error

Untuk mencapai kebenaran, yakni persesuaian antara pengetahuan dan objeknya, tidaklah terjadi secara kebetulan, tetapi harus menggunakan prosedur atau metode yang tepat, yaitu prosedur atau metode ilmiah (scientific method) .Adapun Kelebihan dan kekurangan ilmu alamiah ditentukan oleh metode ilmiah, maka pemecahan segala masalah yang tidak dapat diterapkan metode ilmiah, tidaklah ilmiah.

        B.     Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan suatu cara yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan suatu permasalahan serta menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur, dan terkontrol.
Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatuinterelasi.”
Metode Ilmiah yaitu gabungan antara dua pendekatan rasional (deduktif) dan pendekatan empiris (induktif). Metode Ilmiah merupakan cara dalam memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Descartes adalah pelopor dan tokoh rasionalisme. Menurut dia, rasio merupakan sumber dan pangkal dari segala pengertian. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang pada kebenaran dan dapat memberi pimpinan dalam segala jalan pikiran.
Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif. Dasar pikiran yang digunakan dalam penalarannya diperoleh dari ide yang menurut anggapannya sudah jelas, tegas dan pasti, dalam pikiran manusia.Kelemahan rasionalise yaitu bersifat abstrak, tidak dapat dievaluasi, kemungkinan dapat diperoleh pengetahuan yang berbeda dari obyek yang sama, cenderung bersifat subyektif dan solpsistik, yaitu hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berbeda dalam otak orang yang berfikir tersebut.
Kaum empirisme berpendapat bahwa pengetahuan manusia tidak diperoleh lewat penalaran rasional yang abstrak, tetapi lewat pengalaman yang konkrit, berpegang pada prinsip keserupaan, pada dasarnya alam adalah teratur, gejala-gejala alam berlangsung dengan pola-pola tertentu. Dengan mengetahui kejadian masa lalu atau sekarang akan dapat diramalkan kejadian di masa datang. Kelemahannya belum tentu sistimatis, dan keterbatasan alat yang digunakan (misal panca indera).

         C.      Ciri-Ciri Metode Ilmiah
Agar himpunan pengetahuan ini dapat disebut ilmu pengetahuan harus digunakan perpaduan antara rasionalisme (deduksi) dan empirisme (induksi), yang dikenal sebagai metode keilmuan atau pendekatan ilmiah. Menurut H. Abu Ahmadi dan A. Supatmo ciri-ciri metode ilmiah yaitu :
Ø Obyektivitas (bebas keyakinan, perasaan dan prasangka pribadi serta bersifat terbuka)
Ø Konsisten
Ø Sistimatik.
Menurut Abdullah Aly dan Eny Rahma ciri ilmiah yaitu:
Ø Obyektif
Ø Metodik
Ø sistimatik dan berlaku umum
Menurut Maskoeri Jasin ciri ilmiah yaitu :
Ø Teratur
Ø Sistematis
Ø Berobyek
Ø Bermetode
Ø Berlaku secara universal.

         D.    Kriteria Sebuah Metode Ilmiah Yang Baik
Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1.      Berdasarkan Fakta
Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisa haruslah berdasarkan fakta-fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasar-kan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda atau kegiatan sejenis.
2.      Bebas dari Prasangka
Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alasan dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif.
3.      Menggunakan Prinsip Analisa
Dalam memahami serta member! arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis, Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisa yang tajam.
4.      Menggunakan Hipotesa
Dalam metode ilmiah, peneliti harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk mengonggokkan persoalan serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.
5.      Menggunakan Ukuran Obyektif
Kerja penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dengan merasa-rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dan dengan menggunakan pikiran yang waras.
6.      Menggunakan Teknik Kuantifikasi.
Dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan, kecuali untuk artibut-artibut yang tidak dapat dikuantifikasikan Ukuran-ukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus selalu digunakan Jauhi ukuran-ukuran seperti: sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagai¬nya Kuantifikasi yang termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking dan rating.

        E.     Langkah-langkah Operasional Metode Ilmiah
a.      Perumusan masalah
Yang dimaksud dengan masalah yaitu pernyataan apa, mengapa, ataupun bagaimana tentang obyek yang teliti. Masalah itu harus jelas batas-batasnya serta dikenal faktor-faktor yang mempengaruhinya.
b.      Penyusunan hipotesis
Yang dimaksud hipotesis yaitu suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat dipandang sebagai jawaban sementara dari permasalahan yang harus diuji  ebenarannya dalam suatu obserevasi atau eksperimentasi.
c.       Pengujian hipotesis
Yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Fakta-fakta ini dapat diperoleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau teleskop atau dapat juga melalui uji coba atau eksperimentasi, kemudian fakta-fakta dikumpulkan melalui penginderaan.
d.      Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta (data) untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima atau tidak.

Hipotesis itu dapat diterima bila fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan hipotesis. Bila fakta tidak mendukung maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah, dan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.

Berdasarkan urutan stratanya, ada tiga jenis landasan ilmu:
a. Hipotesis
Merupakan dugaan mengenai masalah yang diambil dari pengetahuan yang telah ada.
b. Teori
Merupakan landasan ilmu yang telah teruji kebenarannya, namun dimungkinkan adanya koreksi.
c. Hukum/dalil
Merupakan teori yang terbukti kebenarannya melalui pengujian berkali-kali.
Dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang disusun secara sistimatis, berlaku umum dan kebenarannya telah teruji secara empiris.

Menurut Schluter (1926) mengemukakan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.
2. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan.
3. Membangun sebuah bibliografi.
4. Memformulasikan dan mendefinisikan masalah.
5. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.
6. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung.
7. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah.
8. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak.
9. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.
10. Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan.
11. Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa.
12. Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi.
13. Mengatur data untuk persentase dan penampilan.
14. Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan kaki).
15. Menulis laporan penelitian.

       F.      Keunggulan Dan Keterbatasan Metode Ilmiah
Keunggulan metode ilmiah :
       a.       Metode ilmiah dapaat memberikan latihan dan kebiasaan berpikir sistematis, logis,dan analitis.
       b.      Menempuh sikap yang baik, jujur, obyektif terbuka, didiplin dan toleran.
      c.       Menolak paham takhayul dan pendapat apriori atu menolak suatu pendapat tanpa adanya   bukti nyata.
Keterbatasan metode ilmiah :
         a.       Kelemahan dari panca indera.
         b.      Keterbatasan dari alat yang digunakan.
         c.       Kebenarannya hanya bersifat sementara (tentative).
         d.      Sulit memilih fakta yang benar benar berkaitan dengan masalah yang akan dipecacahkan.
         e.       Dua fakta yang tampak belum tentu berkaitan menunjukkan hubungan sebab akibat.

      G.    Sikap Ilmiah
a.    Jujur
Ilmuan wajib melaporkan hasil pengamatannya secara objektif dan jujur, penelitian tersebut diuji kembali oleh peneliti lain akan memberi hasil yang sama.
b.    Terbuka
Ilmuan harus mempunyai pandangan luas, terbuka terhadap pendapat orang lain, jauh dari praduga dan menghargai gagasan orang lain meskipun untuk menerimanya harus melakukan pengujian terlebih dahulu.
c.    Toleransi
Ilmuan tidak akan merasa dirinya paling hebat, bersedia belajar dari orang lain serta tidak pernah memaksakan pendapat orang lain
d.   Skeptis
Ilmuan akan bersikap berhati-hati meragukan sesuatu dan skeptis, tapi kritis sehingga akan menyelidiki dahulu bukti bukti suatu kesimpulan,keputusan atau pemecahan masalah.
e.    Optimis
Ilmuan tidak akan mengatakan sesuatu tidak dapat dikerjakan sebelum memikirkan dan mencoba mengerjakannya terlebih dahulu.
f.     Pemberani
Ilmuan mencari kebenaran, berani melawan ketidak benaran, kepura-puraan yang menghambat kemajuan. Contohnya COPERNICUS dan GALILIEO
g.    Kreatif dan Inovatif
Ingin mendapatkan, Menciptakan, memvariasikan sesuatu yang baru terutama guna mendapatkan nilai tambah.
h.    Dapat membedakan antara opini dan fakta
i.      Tidak berprasangka dalam mengambil keputusan
j.      Teliti, hati-hati dan saksama dalam bertindak
k.    Selalu ingin tahu

BAB III
PENUTUP


1.    Kesimpulan
Metode ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Ini berarti bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah.
 Penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, tapi tidak dapat dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya.
2.    Saran

Selaku makhluk yang mempunyai pikiran dan mempunyai pengetahuan maka kita perlu menerapkan sikap-sikap ilmiah dalam kehidupan kita waluapun kita bukan seorang ilmuwan. Karena sikap ilmiah merupakan sikap yang akan memberikan dampak yang baik dalam kehidupan jika kita melaksanakannya.


DAFTAR PUSTAKA


Darmadjo, Hendro. 2004. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Jasin, Maskoeri. 1989. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada.
Amirullah, Andi. 2008. Metode Ilmiah.
http//aziko.blogspot.com./2010/03/iad-perkembangan-dan-pengembangan-html.
http//wikipedia.com/2011/04/iad-metode-ilmiah.html